Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Monday, 2 March 2015

Bukan apa-apa

Kalau tak ada gravitasi dan barbel yang berat, kita tak bisa melatih otot-otot supaya kuat
Kalau tak ada sedih dan sepi, kita tak jadi perlu sahabat dan keluarga yang menemani
Kalau tak ada hujan deras dan langit yang basah, kita tak akan pernah melihat cahaya mata-hari jadi pelangi

Kita mulai merasa sedih ketika kita terlalu sibuk memikirkan nasib kita sendiri. Karena dari pikiran itu akan datang ide usil untuk membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dalam perbandingan itu kita selalu kalah dengan skor yang besar. Selalu kalah telak.

Satu batang korek api bisa menghanguskan ribuan pohon di hutan
Satu batang pohon bisa menjadi ribuan korek api yang bisa menyalakan lilin penerang
Satu keluh bisa mensirnakan ribuan nikmat yang utuh
Satu syukur bisa menghidupkan mimpi-mimpi yang terkubur

Ayo bangkit
Bangkit lagi sebagaimana kamu dulu
Yang selalu kuat dan hebat

Dunia bukan tempat untuk menyesal

Semesta belum menyerah menerima kehadiranmu
Buktinya nafas masih setia di paru-paru

Kalau kamu sedih dan merasa lemah hari ini
Ayo segeralah bersemangat menonton episode hidupmu selanjutnya
Di sana ada happy ending yang akan menyapa



Sunday, 1 March 2015

Resensi Biografi Gandhi The Man


Setelah membaca buku ini saya mendapat kekuatan yang luarbiasa besar. Saya mengakui, Gandhi memang salah satu tokoh berpengaruh di dunia. Sederhana dalam hidup beserta konsepnya. Satyagraha dan Ahimsa, tapi dampaknya sangat kuat!

Satyagara artinya memegang teguh kebenaran. Tidak takut terhadap apapun demi menegakkan kebenaran.

“Hanya karena sesuatu tidak pernah terjadi pada masa lalu, bukan berarti itu tidak dapat terjadi pada masa depan” – Mahatma Gandhi


Kebenaran itu Gandhi perjuangkan melalui jalan Ahimsa. Nirkekerasan. Hati bersih dari kebencian, amarah, dan kedengkian. Hanya ada cinta dan kasih sayang. Fitrah manusia adalah mencintai dan menyayangi. Kebencian dan kekerasan tak bisa berdiri sendiri tanpa adanya pendukung, berbeda dengan cinta dan sayang yang mengalir deras dalam darah manusia.


Hidup adalah tempat untuk melayani orang, sebanyak mungkin, seberkualitas mungkin. Kekuatan terbesar kita terletak pada cinta di dalam hati. Kita akan terus memberi walau hasilnya adalah luka-luka di hati kita. ah, luka itu tidaklah penting. Karena bagi seorang Satyagrahi, yang terpenting bukan hasil atau pencapaian, tapi proses dan keteguhan melakukan yang baik.


oh ya, luka masih bisa ada dan terasa bagi orang yang menggantungkan hidupnya pada sesuatu. Bebaskan diri dari segala ikatan ghaib yang membelenggu. Berdirilah dan mandiri, maka hidup hanya akan terisi dengan hal ajaib yang menentramkan hati.


Gandhi mengubah dirinya untuk mengubah dunia. caranya sangat sederhana. Dengan mempraktikkan yang ia baca dari Bhagavad Gita. Hidup ini sederhana, tafsirannya yang rumit. Gandhi memilih hidup yang sederhana dengan kecintaan yang istimewa. Hasilnya mu'jizat!


Ini beberapa kutipan dari buku biografi Gandhi ini.


“Kekerasan takkan pernah dapat mengakhiri kekerasan; yang bisa dilakukannya hanyalah memancing kekerasan yang lebih besar” – Mahatma Ghandi


“Kita semua adalah satu. Ketika kau mengakibatkan penderitaan kepada orang lain, kau membawa penderitaan kepada dirimu sendiri. Ketika kau melemahkan orang lain, kau melemahkan dirimu sendiri, melemahkan seluruh bangsa” – Mahatma Gandhi


“Hukum rimba tidak jadi masalah untuk binatang; kekerasan adalah darma mereka. Namun, bagi manusia, melakukan kekerasan sama saja dengan membalik alur evolusi dan melawan sifat dasar kita, yaitu mencintai, menanggung, dan memaafkan.” – Mahatma Gandhi


“Kesenangan berada dalam perjuangan, dalam usaha, dalam penderitaan yang terlibat, bukan dalam kemenangan itu sendiri” – Mahatma Gandhi


“Kemarahan kita yang terkendali bisa diubah menjadi kekuatan yang dapat menggerakkan dunia” – Mahatma Gandhi


“Ketika seseorang melakukan segalanya dengan semangat beribadah, semua tempat yang ia kunjungi adalah sakral.” – Mahatma Gandhi


“Jika kamu ingin melihat jiwa pemberani, lihatlah mereka yang bisa memaafkan. Jika kamu ingin melihat jiwa kepahlawanan, lihatlah mereka yang bisa membalas kebencian dengan kasih sayang.” – Mahatma Gandhi


“Nirkekerasan adalah senjata para pemberani.” – Mahatma Gandhi


“Kekuatan bukan berasal dari kemampuan fisik, melainkan muncul dari kemauan yang gigih” – Mahatma Gandhi


“Untuk dapat menikmati hidup, kita tidak boleh egoisnya bergantung pada apa pun, uang, harta benda, kekuasaan, atau gengsi, bahkan keluarga atau teman. Ketika kita melekat pada hal-hal tersebut, kita menjadi tahanannya.” – Mahatma Gandhi


“Seseorang yang selalu merisaukan hasil kerjanya tidak mampu melihat tujuannya dengan jelas; di matanya yang tampak hanya perlawanan dan rintangan.” – Eknath Easwaran
“Yang saya maksud dengan pelepasan diri adalah bahwa anda tidka perlu khawatir apakah hasil yang anda inginkan akan tercapai melalui tindakan anda, selama niat anda murni dan cara anda benar. Sungguh, segala hal akan menjadi tepat pada akhirnya, jika anda menggunakan caara yang benar dan menyerahkan sisanya kepada Dia.” – Mahatma Gandhi


““Tuan Gandhi,” seorang jurnalis dari negara Barat pernah bertanya, “Anda telah bekerja setidaknya lima belas jam sehari, setiap hari, selama hampir lima puluh tahun. Tidakkah anda pikir ini saatnya untuk berlibur?”


“Mengapa?” Gandhi berkata. “Saya selalu berlibur.”” – Gandhi The Man


“Bukanlah nirkekerasan namanya jika kita hanya mencitai orang-orang yang mencintai kita. Nirkekerasan adalah ketika kita mencintai orang-orang yang membenci kita. Saya tahu sangatlah sulit untuk menaati hukum agung cinta kasih ini. Namun, bukanlah segala hal hebat dan baik sulit untuk dilakukan? Mencintai orang yang membenci kita adalah yang paling sulit di antara semuanya. Namun, dengan rahmat Tuhan bahkan hal yang paling sulit ini pun dapat dicapai dengan mudah jika kita mau melakukannya.” – Mahatma Gandhi


“Kita mulai merasa sedih ketika kita memikirkan diri sendiri” – Ginan Aulia Rahman


“Cinta tidak pernah meminta, ia selalu memberi. Cinta selalu menderita, tidak pernah membenci, tidak pernah membalas dendam demi dirinya sendiri.” – Mahatma Gandhi



“Waktu anda bukanlah milik anda, melainkan milik bangsa. Kita hanyalah orang yang diamanatkan untuk menggunakannya.” – Mahatma Gandhi

Saturday, 28 February 2015

Saya dan Perpusatakaan

Perpustakaan menjadi bagian hidup saya. Saya dengan perpustakaan seperti Somay dengan bumbu kacang. Begitu klop dan saling melengkapi.

Ceritanya berawal sejak SMA kelas X di pesantren. Saya adalah anak SMA yang bodoh. Saat itu ada tes IQ, Teman-teman saya memiliki IQ yang besar. Mereka berIQ 140, 135, 129. Mereka memang teman-teman saya yang jenius.

Coba tebak berapa IQ saya? dengan sangat sedih saya akan beri tahu kalian, IQ saya hanya 101!

Bayangkan kawan-kawan pembaca. IQ saya 101! Gilaaaaa. IQ saya hanya 1 poin lebih tinggi dari batas orang normal. Kurang dikit lagi saja saya sudah ditolak di SDnya Forest Gump!

Ujian Fisika, Kimia, dan Biologi sangatlah bagus. Nilainya 4! Sayang saat itu saya bukan anak kuliahan, tapi anak SMA. Masa SMA saya suram banget deh. Apapun ujiannya pasti kena remedial. Aduh masa SMA adalah The Dark Ages bagi saya.

Frustasi. Saya sering nangis karena gak bisa apa-apa. Hmm.. Sudah bodoh cengeng juga. Dasar lelaki pemakan somay ngutang. 

Satu-satunya tindak intelektual yang bisa saya lakukan hanyalah membaca. Walaupun saya bodoh dan IQ saya tidak bisa dibanggakan, setidaknya saya tidak buta huruf. Oke, saya pikir-pikir saat itu, ada baiknya saya tidak terlalu peduli dengan keterbatasan saya. lebih baik saya fokus pada apa yang bisa saya lakukan. Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.

Saya bisa membaca. Hanya bisa itu. Maka saya bertekad akan menjadi pembaca yang luarbiasa tekun!

Sekali baca saya tidak hanya memegang 1 buku. Kadang 3, 5, paling banyak 7! Setiap saya merasa bosan dengan buku yang saya baca, saya segera beralih ke buku yang lain. Sebenarnya saya tidak suka membaca, jadi saya paksakan untuk suka. Ya mau bagaimana lagi, Cuma ini yang bisa saya lakukan.

Nah, karena itulah saya jadi sering ke perpustakaan pesantren saya. Di sana lumayan tersedia banyak buku. Banyak buku sumbangan yang bagus-bagus. Kakak kelas yang telah meninggalkan pesantren biasanya menyumbangkan buku-bukunya ke perpustakaan. 

Setiap hari saya ke perpustakaan. Sampai-sampai perpustakaan pesantren saya itu jadi berbau khas kaki saya. hahahaha. Kaki saya bau saudara-suadara. Untuk ke perpustakaan mesti buka sepatu. Ya habis keringetan sekolah lalu ke perpustakaan membuka sepatu. Jadi bukan salah saya dong perpustakaan jadi bau. 

Vino menjadi patner saya dalam membaca. Kami duduk paling belakang, di kolong meja kami tersimpan banyak sekali buku. Guru-guru silakan berbicara di depan kelas, Saya dan Vino tetap membaca buku di bangku dengan asyik.

Saya pernah bilang ke Vino 

“No, klo kamu belum berhasil mengacak-ngacak rak buku perpustakaan tempat kamu belajar atau sekolah, dan belum kau baca habis semua bukunya, berarti kamu belum sungguh-sungguh lulus dari sekolah itu!”

Gila. Sungguh kalimat yang buat merinding. Kami berdua berhasil membaca semua buku yang ada di perpustakaan pesantren kami. tapi setelah saya kuliah di UI. Saya bingung bagaimana baca buku sebegitu banyaknya, perpustakaan UI terbesar seAsia Tenggara cuy. Gimana saya mau baca semua bukunya? 

Sedangkan Vino kuliah di Unpad, Dia sekarang maju sebagai ketua BEM Unpad. Membaca banyak buku mengantarkan dia menjadi pemimpin di kampusnya.

Saat kelas XI saya membaca buku yang luarbiasa. Sebuah Novel/Memoar karya John Wood berjudul Leaving Microsoft to Change The World. John Wood seorang pejabat eksekutif di Microsoft. Setelah ia pergi ke Nepal untuk mendaki Himalaya, hidupnya berubah. Dia menemukan orang-orang Nepal yang kurang beruntung. Mereka tak memiliki perpustakaan yang memadai di sekolahnya. John Wood menjadi terkenang masa kecilnya yang penuh dengan buku-buku.

John Wood akhirnya memutuskan untuk keluar dari Microsoft dan mendirikan organisasi nirlaba bernama Room to Read. Perjuangan yang sungguh inspiratif. hingga saat ini John Wood dengan Room to Readnya telah mendirikan 16,549 Perpustakaan, 1,824 sekolah, dan mendistribusikan 14,588,494 buku di Bangladesh, Cambodia, India, Laos, Nepal, South Africa, Sri Lanka,Tanzania, Vietnam and Zambia 

Saya ketika membaca kisah perjuangan John Wood, badan jadi gemetar dan takjub. Saya ingin seperti John Wood, mendirikan perpustakaan di banyak tempat. Ini menjadi cita-cita saya.

Lalu hal mengharukan terjadi pada saya. Adik saya bernama Rusyda Deviana, ketika ia lulus SMA dia bilang pada saya

“A Ginan, Devi mau lanjut kuliah di jurusan ilmu perpustakaan. A Ginan pernah bilang ingin punya perpustakaan. Biar nanti Devi yang akan mengelolanya a!”

So Sweet...

Saat ini Devi telah lulus kuliah jurusan ilmu perpustakaan, ia bekerja menjadi librarian di SMAN 1 Leuwiliang. Semenjak Devi bekerja di sana, pengunjung perpus menjadi membludak. Karena dulunya perpustakaan sekolah selalu terbengkalai. Devi mengurus perpustakaan dengan sangat baik, sehingga pengunjung pun menjadi tertarik untuk datang.

Setiap bulan perpustakaan yang dikelola Devi mendapat penghasilan 1 juta rupiah dari peminjaman buku. Devi mempercayakan saya sebagai rekomendator untuk pengembangan koleksi buku perpustakaan. Setiap bulan saya belanja buku untuk perpustakaan. Saya bisa membeli buku apapun yang saya suka dan ingin baca, hahaha. Untuk selanjutnya buku itu akan menjadi koleksi perpustakaan SMAN 1 Leuwiliang.

Setiap bulan saya belanja buku sebesar 1 juta. Rupiah. Lumayan bisa membeli beberapa belas buku dengan uang itu. Mimpi saya ingin memiliki perpustakaan seolah telah terwujud. walau tidak menggunakan uang sendiri. Ya seperti pepatah lama. Menikmati tidak harus memiliki. Hahaha

Ternyata buku-buku pilihan saya laku dipinjam anak SMA. Selara saya memang bermutu. Akhirnya banyak yang suka datang ke perpustakaan dan rajin meminjam. Haaah senang sekali. 

Alhamdulillah saya jadi banyak sekali mendapat keuntungan. Saya selalu bisa membaca buku yang ingin saya baca, saya tidak akan pernah tertinggal untuk membaca buku terbitan baru, dan saya membantu sebisa saya untuk kemajuan perpustakaan SMAN tempat Devi bekerja.

Saya anak SMA bodoh ini akhirnya bisa berguna. Gara-gara membaca dan perpustakaan, saya jadi bisa menulis. Ya walau beginilah tulisan saya. seadanya.

Itulah kisah saya dengan perpustakaan. Terimakasih sudah membaca...


Malu dong malu..Belajar yang rajin

Ini pengalaman yang membuat saya kaget setengah mati. Saat itu hari Jum’at di Cihampelas Bandung. Jam di dinding menunjukan pukul 11. Saya dan kakek pergi ke masjid An-Nur untuk shalat Jum’at. 

Masjid masih sepi. Adzan Dhuhur sekitar satu jam lagi. Selepas wudhu saya menuju shaf paling depan, di sana ada seorang bapak yang beruban lebat duduk sambil menunduk membaca sesuatu. Terlihat dari belakang bapak itu sudah begitu tua. 


“wah bapak ini rajin sekali ke masjid untuk Jum’atan” kata saya dalam hati.


Setelah posisi saya dekat dengan bapak itu, saya kaget betul. Saya lihat bapak itu dari dekat, ternyata bapak itu seorang tuna netra. Dengan sangat tenang dan khusyu dia sedang membaca Al-Qur’an braile!


Sebagai anak muda hati saya tertampar keras. Pemandangan seorang bapak tua tuna netra sedang khusyu membaca Al-Qur’an menghujam jantung saya. ‘Jleb jleb jleb’. Tiga tikaman bersarang di dada. 


“hai anak muda yang sehat mata. Mana Al-Qur’anmu? Sudah baca sampai mana? sudah kau amalkan sejauh apa?”

Saya merenung. Bapak yang sudah tua dan tak bisa melihat, ia pantang menyerah untuk membaca firman Allah. saya apa kabar?


Lalu pengalaman saya di Damaskus membuat saya kagum . Saya bertemu dengan teman-teman yang hafal dan merdu melantunkan Al-Qur’an. Teman saya bernama Abdurahman, dia baru berumur 15 tahun dan telah hafal Al-Qur’an. Teman dari Macedonia, Aljazair, Bahkan teman senegara saya dari Solo hafal Al-Qur’an. 


Pertanyaan antara siswa-siswa di Syria bukan lagi “kamu sudah hafal berapa juz Al-Qur’an?”. Tapi “Selain hafal Al-Qur’an dengan qira’ah Hafs, kamu hafal qira’ah apa?”


Begitu juga dengan penguasaan bahasa. Mereka sudah tidak bertanya lagi “kamu menguasai bahasa inggris dan bahasa arab tidak?”. Tapi “selain bahasa inggris dan bahasa arab, kamu menguasai bahasa apa?”


Di atas langit ada langit. Jangan pernah puas dengan keadaan sekarang yang sepertinya sudah cukup dan cakap. 

Dalam kediaman dan kemalasan kita, ada banyak orang lain yang selalu berprogres maju. 


Di saat kita mengeluh sudah terlalu tua untuk belajar dan menguasai pelajaran, ada banyak orang yang lebih tua dan semangat untuk belajar, bahkan baru mulai belajar alif ba ta tsa tanpa keluhan.


Di waktu kita letih atas kesulitan, ada banyak orang lain yang tak sempat memikirkan hal begitu karena sibuk berjuang.

Kita sehat dan memiliki 5 indra yang berfungsi dengan baik. Mau menunggu apa lagi untuk berjuang? Mau punya alasan apa lagi untuk menunda?


Mengembangkan diri selalu terasa tidak penting dan mendesak, sampai kita tahu perihnya penyesalan. Waktu berlalu dan kesempatan hilang.


Ya. semoga kita selalu bisa berjuang tanpa keluh kesah. Berkembang dan memantaskan diri menjadi diri yang lebih baik. In harmonia progressio.


###

Tambahan..

Saya baru membaca buku My Brief History, biografi dari fisikawan terkenal, Stephen Hawking. Dia bercerita, selepas dia lumpuh total dan hanya bisa terduduk di kursi roda. Dia bisa menulis 7 buku best-seller dan beberapa makalah fisika. Tangan dan jarinya tak bisa bergerak, dia menulis tidak menggunakan kedua tanggannya, tapi menggunakan sensor gerakan mata. Dia menulis dibantu perangkat komunikasi yang merepotkan tapi dia tetap menulis.

Ckckckc..



Friday, 2 January 2015

Sains Gak Segitunya



"Sesuatu yang tidak dimengerti dari alam adalah bahwa dia bisa dimengerti" 
-Einstein

Fisika tidak menggambarkan kebenaran absolut semesta. Teori-teorinya hanya sebuah model yang dibentuk agar kita bisa mengerti tentang kejadian alam. Istilahnya model dependent realism. Realitas bergantung model. 

Banyak penemuan fisika yang ditemukan secara tidak sengaja. Seperti penemuan bahwa listrik memiliki gaya magnet. Sewaktu beres-beres kamar kosan, Oersted secara tidak sengaja melihat jarum kompas bergerak saat ada listrik di dekatnya. Dari sana ia menyimpulkan listrik bisa menarik jarum kompas, berarti listrik memiliki gaya magnet. kemudian seorang tukang sapu di perpustakaan dan lab bernama Michael Faraday dengan santai nyeletuk "wah kalau listrik itu menghasilkan gaya magnet, maka gaya magnet bisa menghasilkan listrik juga dong". Dan si tukang sapu jadi terkenal sebagai ilmuwan fisika, padahal dia tidak pandai matematik. Pemikiran fisikanya pun minim hitungan. Dia berhasil menggambar dengan iseng force field, alias medan gaya.

Ini pukulan terhadap metode ilmiah yang kaku seperti diajarkan di sekolah atau kuliah. Kalau kamu mau mendapat pengetahuan ilmiah kamu harus membuat latar belakang, rumusan masalah, landasan teori, hipotesa, eksperimen, lalu buat laporan praktikum dengan tulis tangan!. KAMPRET! Loe gak tahu ya Oersted nemuin teori elektromagnet daari iseng beres-beres kamar!? 

Penemuan besar sains ditemukan dengan tidak sengaja tapi kita amat serius belajar fisika di kelas dengan tekanan pikiran "kalau nilainya tidak bagus nanti saya kena remedial. kalau gagal remedial nanti saya tidak naik kelas" ah sudahlah.

Lalu justifikasi teori big bang dan penemuan microwave ditemukan karena dua orang yang lagi ngegosip di kantor bell lab. Mungkin mereka lagi curhat soal cinta bertepuk sebelah tangan, tapi tiba-tiba terdengar suara kecil statik seperti suara TV rusak 'zzzzzZZzz'. Mereka kira suara itu muncul karena tahi merpati yang bersarang di alat mereka. setelah tahi merpati dibersihkan suara itu tetap ada. Mereka bertanya-tanya, lalu ditemukanlah CMBR (Cosmic microwave bacground radiation), mereka menyimpulkan, "sepertinya suara itu datang dari radiasi sisa alam semesta awal yang amat panas dan mampat tak lama setelah bing bang"

...Gila

Maaf ya gak sengaja nemu justifikasi big bang..


Jadi... apa yang kita pelajari dengan serius di sekolah dan kuliah. adalah sesuatu yang ditemukan secara kebetulan dan iseng

Wednesday, 31 December 2014

Hai Introvert Optimislah..

Tulisan saya kali ini untuk orang yang merasa dirinya introvert.


Senin 13 Oktober 2014 saya kedatangan tamu istimewa, Adik kelas saya di pesantren bernama Faiz Ahadina. Dia datang ke perpustakaan UI untuk menemui saya. Rencananya kami akan mengobrol dan saling bertukar cerita. Agenda khususnya Faiz ingin konsultasi ke saya soal keluhannya.

Faiz merasa dirinya introvert. pemalu dan penyendiri. Dia merasa lebih bersemangat, fokus, dan berenergi saat sendirian daripada saat berkumpul bersama orang lain.
Faiz memiliki cita-cita tinggi. Ingin membanggakan orang tua dan bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang. Dia menyadari untuk mewujudkan cita-cita itu dia perlu banyak bergaul, berorganisasi, dan berinteraksi dengan banyak orang. Terlebih lagi dia kuliah di jurusan entrepreneurship. Menjadi pengusaha perlu kemampuan yang cakap dalam menghadapi dan mengurus orang. Faiz merasa masuk ke suatu wilayah tidak nyaman. Faiz orang pendiam, tidak bisa menghangatkan suasana, tertutup, dan sulit memulai obrolan. Faiz merasa tersiksa karena ini.
Orang introvert itu minoritas, orang ekstrovert mayoritas. Satu orang ekstrovert bisa jadi orang yang sangat dominan di suatu perkumpulan. Nah, orang ekstrovert berjumlah banyak. Orang introvert seperti Faiz jadi tambah minder.
Kami punya kakak kelas yang introvert. Kang Irfan Amalee. Dia mengatakan kalimat yang inspiratif soal introvert
“Hal yang orang tunggu dari orang introvert bukan menghangatkan atau meramaikan suasana seperti yang orang ekstrovert lakukan, tapi karya-karya yang fenomenal!”
Albert Einstein, Bill Gates, dan JK Rowling adalah orang introvert. Dunia merasakan manfaat lewat karya-karya mereka. Kang Irfan Amalee juga berkarya. Menulis buku-buku dan mendirikan peace generation sehingga membuat dia masuk sebagai 500 muslim berpengaruh dunia.
“Yasudah iz. Kamu berkarya aja. Beri orang lain manfaat lewat ide dan buah tangan kamu” kata saya.
“Iya a. tapi saya tetap merasa perlu untuk bergaul. Gimana ya a? ini saya kuliah di jurusan entrepreneurship a ”
“kebetulan aa baru baca pemikiran Piere Bordieu soal habitus. Manusia terbentuk karena habitus. Habitus itu kebiasaan, lingkungan, dan keadaan tertentu yang akhirnya membentuk manusia. Gini iz. Kalau kamu mau jadi seorang entrepreneur, kamu mesti masuk ke habitus yang membuat langkah kamu lancar menjadi entrepreneur. Misalnya masuk komunitas entrepreneur, bergaul dengan mereka yang paham soal bisnis. Nanti kamu secara otomatis akan terbentuk jadi entrepreneur iz.
Kalau ngandelin semangat dan niat saja iz, kita akan selalu gagal untuk bertahan melawan waktu. Konsistensi dan setia untuk selalu berjuang itu sulit. Jadi mending masuk ke dalam habitus. Atau ciptakan habitus itu sendiri. Jadikan apa yang perlu kamu lakukan itu kebiasaan. Buat lingkungan yang kondusif yang sesuai dengan tujuan yang mau kamu capai.”
“Iya a. tapi gimana sayanya kayak gini a. introvert. Gak bisa bergaul masuk ke habitus itu”
“nah ini iz yang jadi masalah di diri kamu. Soal mindset. Kamu udah terlalu terpaku sama pikiran kamu kalau kamu itu introvert.
Iz. Ada dua macam mindset. Fixed mindset dan growth mindset. Kamu ini fixed mindset. Pola pikir kamu udah bilang fix kalau kamu itu introvert. Jangan begitu, nanti selamanya kamu gak akan bisa berubah. Manusia itu dinamis iz, bisa berkembang dan bisa tambah baik. Setiap manusia punya potensi yang akan menjadi aksi. Kamu lebih baik pakai growth mindset.

Coba iz aa tanya. Kamu datang jauh-jauh dari Kebayoran. Naik kereta ke UI. Masuk ke perpustakaan kampus orang lain untuk ketemu saya. Terus kamu ngobrol dengan saya sekarang. Kira-kira, itu hal yang dilakukan orang introvert atau ekstrovert?”
“Orang Ektrovert a”
“tuhkan. Kamu itu udah melakukan sesuatu yang orang ektrovert lakukan. Kalau kamu ini introvert tulen iz. Tentu kamu bakal lebih memilih diam di kosan. Mengurung diri. Gak akan pergi jauh juah buat ngobrol sama saya”

“ohhh.. berarti saya ambivert”
“hahahahahaha.. maksudnya bukan begitu. Hahahaha. Ekstrovert dan introvert itu cuma konsep di kepala. Sesungguhnya gak ada manusia yang betul betul introvert dan betul betul ektrovert. Sesuai keperluanlah
Manusia itu berkembang iz. Bahkan Nabi Muhammad pun tidak langsung jadi orang superhebat. Pasti ada prosesnya. Kalau aa pikir ya. Nabi Muhammad itu pada awalnya orang introvert.”
“loh, kok gitu a?”
“iya iz. Coba bayangin. Nabi Muhammad itu yatim. Ditinggal oleh ibunya umur 6 tahun. Lalu dia tinggal di rumah kakeknya. Kira-kira anak yang tinggal di rumah kakek dalam keadaan yatim piatu dia akan ekstrovert atau introvert?”
“introvert a”
“lalu kakek nabi Muhammad meninggal dunia. Beliau mesti tinggal di rumah Abi Thalib, pamannya yang memilik anak banyak. Nabi Muhammad punya kemungkinan besar seorang introvert. Tapi itu tidak menghalangi beliau menjadi pengusaha yang hebat iz di Siti Khadijah Corporation. Di sana pasti ada usaha, kerja keras, belajar, dan ketekunan.”
“Ya itukan Nabi a. saya mah bukan”
“Iz. Kenapa Allah mengutus seorang manusia bukan malaikat? Supaya bisa kita jadikan teladan. Nabi manusia. Kamu juga manusia. Manusia bisa belajar dan berkembang. Udahlah jangan terlalu kamu pikirkan masalah introvert atau ekstrovert.
Kita hidup untuk belajar. Kalau kebetulan kamu sekarang orang introvert. Itu bukan sebuah hukuman, tapi kamu sedang dididik”
“dididik apaan a?”
“Ya dididik supaya kamu sabar dan belajar jadi orang yang lebih terbuka.”
Dan obrolan kami pun selesai karena adzan dhuhur. Saya pun ada kuliah filsafat pendidikan jam 1 siang.
Sebelum saya berangkat kuliah. Saya ajak Faiz makan nasi padang, saya teraktir dia. Saya mesti menjamu tamu secara istimewa.. Apalagi ini adik kelas kesayangan saya dari dulu ketika dia masih kelas 1 MTs.

Di rumah makan padang, saya makan ayam balado dan Faiz makan daging rendang. Setelah beberapa saat, Faiz bicara

“A, boleh nambah nasi ya?”
Saya tersenyum dan bilang
“iz. Kira-kira itu hal yang dilakukan orang introvert atau ekstrovert?”
Dan kami pun tertawa..
Haduuuh udah ditraktir. lalu dengan tanpa malu minta nambah. terus mengaku orang introvert?
“kalau bisa saya minta bungkus juga a. hehehe”

Pengalaman Pertama Mencari Kerja


Pernah nonton film The Pursuit of Happyness? 

Setiap teringat film itu saya berpikir soal sulitnya mencari pekerjaan. Kalian pasti ingat bagaimana si Chris Gardner ditinggal istrinya karena istrinya kecewa dan tak bahagia. Lalu si Gardner susah payah menjual mesin pemadat tulang ke dokter-dokter. Dia berlari-lari ke sana ke mari dengan anaknya, tidur di toilet, lalu melamar di perusahaan pialang saham dengan segala keterbatasan. Saat hendak ujian, dia membaca buku di tempat gelap dan setiap hari mengantri untuk bisa tinggal di penginapan tuna wisma. Ngeri sekali.


Lalu saya terpikir, saya sebentar lagi lulus kuliah. Tinggal 1 setengah tahun lagi. Bagaimana nasib saya nanti? Bagaimana saya bisa menafkahi orang yang saya cintai? Bagaimana membahagiakan mereka? Waktu saya untuk mengambil tanggung jawab sebentar lagi tiba.



Saya mendadak deg-degan. Saya kuliah di jurusan filsafat. jurusan yang tidak menjanjikan nafkah melimpah. Anak istri nanti tak bisa makan argumentasi dan proposisi filosofis. Apalagi makan cinta. Preeeeet cinta. Cinta itu tak bisa menanak nasi.


Saya mulai kepikiran untuk kerja dari sekarang. Saya punya passion di bidang mengajar. Kebetulan ada lowongan untuk mengajar di bimbingan belajar, Tanpa pikir panjang saya mendaftar untuk jadi pengajar ekonomi, sosiologi, dan sejarah. 


Kamis, 30 Oktober 2014 adalah hari bersejarah, hari pertama kali saya melamar kerja. Deg-degan. Bermodalkan sebuah map berisi formulir pendaftaraan, transkrip nilai, kartu identitas mahasiswa, dan ucapan basmallah saya berangkat ke tempat bimbingan belajar di kutek. 


Di formulir pendaftaran ada tabel prestasi. Waduh saya manusia tanpa prestasi dan jarang ikutan lomba. Saya tulis saja pernah beasiswa ke Syria, entah itu prestasi atau bukan yang penting tabel itu tidak kosong. Saya mau mencantumkan pernah menang juara 2 lomba balap karung tapi tidak jadi. Malu ah. 


Lalu ada tabel pengalaman kerja. Saya pernah bekerja freelance di Mizan Application Publisher (MAP). Alhamdulillah pernah kerja ya Allah. Waktu itu MAP akan membuat smartphone khusus untuk jama’ah haji, saya menjadi redaksi yang menulis materi soal tips perjalanan haji dan kamus bahasa arab-indonesia sederhana untuk jama’ah haji. Saya juga pernah mentranslet term and condition aplikasi hafidz (aplikasi untuk penghafal Al-Qur’an dari MAP) ke bahasa arab.


Saya jadi tersadar. Saya sekarang masuk ke sebuah masa di mana saya tidak lagi dilihat secara fisik dan materi. Dulu ketika SMP dan SMA anak populer dan terpandang itu yang ganteng dan cantik atau yang orang tuanya tajir. Ingatlah di umur 20an itu tak lagi terjadi. Sekarang orang melihat saya dari prestasi dan pengalaman saya. Kamu punya prestasi apa? Punya pengalaman apa? Apa karya dan keahlian kamu? 


Singkat cerita saya dan Putri sampai ke tempat bimbingan belajar. Saya serahkan map lamaran saya ke orang yang duduk di belakang meja. Saya tanya namanya


“Namanya siapa mas?”


“Nama saya Lukman”


“Saya Ginan. Hehe. Mas dari Bogor ya?”


“hah? Bukaaan.”


“hahahaha. Kirain saya dari Bogor mas. Soalnya saya dari Bogor”


Si mas Lukmannya bingung. Hahaha


Kami mengobrol enam mata, saya, Putri, dan Lukman. Lukman ini lulusan Sastra jepang UI. Dia angkatan 2009. Penah satu tahun riset di Jepang, katanya sih di Shiba, sebelah timur Tokyo. Asyik betul bisa ke Jepang. Suatu hari saya ingin ke Jepang juga dengan seseorang. 


Sekarang Lukman kerja menjadi tenaga adminitrasi di bimbingan belajar. Katanya teman-teman yang lain bekerja di perusahaan Jepang di Indonesia. 


“Lulusan UI mah tenang aja. Insya Allah langsung kerja”


Iya mas. Saya mau kerja dari sekarang biar banyak pengalaman. Kata saya dalam hati. 


Saya baru membaca buku Rich Dad, Poor Dad. Buku yang provokatif untuk mendorong diri jadi orang kaya. Ada beberapa pelajaran penting dalam buku itu. Katanya, orang kaya bekerja untuk belajar, bukan bekerja untuk uang. Dari belajar inilah kita menjadi bisa menghasilkan uang yang lebih banyak. Uang hanya akan terbuang tapi ilmu dan pengalaman akan mengantarkan pada uang yang lebih besar.


Lalu, Kita harus bisa membedakan aset dan liabilitas untuk jadi orang kaya. Kebanyakan orang yang punya uang tidak cerdas secara finasial, mereka terus membeli barang, padahal barang itu tidak berguna bahkan membuat mereka terbebani pajak dan pengeluaran. Misalnya orang kelas menengah yang membeli mobil. Mobil itu bukan aset tapi liabilitas. Dengan membeli mobil orang kelas menengah menjadi kesulitan. Dia mesti membayar pajak, harus ganti oli, harus isi bensin, harus servis, dan banyak lagi. Mereka tak bisa kaya karena banyak membeli barang yang membebani finansial. Orang harus mulai hidup sederhana dan membelanjakan uangnya untuk membangun aset. Setelah aset bisa membuat uang bekerja untuk kita baru deh boleh membeli barang-barang mewah.


Aduh kok malah bicarain itu sih. Ayo kembali lagi ke soal melamar kerja. Saya jadi kepikiran soal pemuda dan kerja. Saya membaca buku biografi Steve Jobs. Dia mulai bekerja dari umur 16 tahun. Di luar negri memang lazim anak muda bekerja. Malah ketika umur 18 tahun mereka tak lagi bergantung pada orang tua dan harus mencari nafkah sendiri. 


Manusia itu homo faber. Manusia pekerja. Bekerja adalah esensi manusia. tanpa kerja manusia jadi tak terpenuhi esensinya. Saya berpikir, wah mungkin ini yang membuat saya banyak galau dan gelisah. Karena saya belum mulai bekerja, maka dari itu saya sebagai manusia belum tuntas. Dengan bekerja dan menghasilkan nafkah dari keringat sendiri, saya jadi bisa merasa utuh dan berguna. Ya saya jadi tidak sabar untuk mulai mengajar.


Ternyata tidak cukup dengan mengisi formulir, transkrip nilai, dan fotokopi kartu indentitas mahasiswa saja. Saya nanti akan menjalani tes tulis untuk kemampuan ekonomi, sosiologi, dan sejarah. Waduh. Saya mesti belajar. Lalu ada wawancara. Semoga saya bisa lolos dan jadi pengajar.


Bismillah.

Saturday, 27 December 2014

Keajaiban Do'a


“It always seem impossible until it done”
Setiap merasa hidup ini telah usai, mimpi akan kandas. Kalimat dari Nelson Mandela itu seperti nyamuk pada malam hari yang terbang di sekitar telinga saya. Berisik sekali. Seolah mengingatkan saya.
“Bangkitlah anak muda dan buktikan kalau kamu itu keren!”
Awal semester 2 kelas 3 Aliyah, saya sedih karena tidak masuk kuota siswa yang ikut tes beasiswa santri berprestasi dari KEMENAG RI, siswa yang lulus tes akan mendapat beasiswa di PTN Unggulan seperti ITB, UGM, UPI, dan lain-lain. Teman-teman saya mendapat jatah tes karena mereka siswa rangking 1 – 10 di kelas. Ketika teman-teman berangkat ke Bandung dengan mobil pesantren, saya hanya bisa melihat mereka dari kejauhan pergi menuju mimpi-mimpi mereka yang cerah. Saya gigit jari, dalam hati saya bicara
“Saya juga akan dapat beasiswa..”
“keluar negri”
“liat saja nanti”
###
Saya duduk di kasur menghadap lemari yang terbuka. Saya merenungkan kembali kata-kata saya tadi. “Saya juga akan dapat beasiswa keluar negri”
Waduh, ngomong kok seenaknya begitu nan? apa mungkin itu terjadi? Bagaimana caranya?
Saya tidak tahu caranya. Saya sama sekali tidak tahu. Tapi saya tahu apa yang mau saya capai, saya ingin mencoba belajar di luar negri. Saya lepaskan niat ini ke langit. Saya berdoa pada Allah yang maha kaya.
“Ya Allah.. apalah artinya usaha dan inginku. Dua hal itu tiada harganya. Tapi aku percaya pada tingginya harga doa. Doa bisa membeli segalanya. aku berdoa padamu untuk membeli sesuatu. Aku ingin membeli kesempatan untuk bisa belajar di luar negri”
Setelah itu, atas kehendak-Nya, alam semesta seolah bahu-membahu membantu saya mewujudkan mimpi saya. Semua hal di sekitar saya berkonspirasi membuat cita-cita saya menjadi nyata.
Secara ajaib, di semester itu ustadz Nailul Abrar dan ustadzah Marhani menjadi guru baru di pesantren saya. Mereka berdua alumni universitas di Damaskus, Syria. Mereka banyak bercerita tentang Damaskus. Wah saya jadi tertarik untuk belajar di sana. Damaskus adalah sebuah kota bersejarah bagi Islam, kota ini sempat menjadi pusat kekhalifahan Bani Umayyah dan masa kekhalifahan Shalahudin Al-ayubi. Keren!
Hal yang paling membuat saya semangat, saya teringat, dulu Syria disebut Syam dan nabi Muhammad SAW ketika muda pergi ke Syam untuk berdagang. Kalau saya bisa berhasil belajar di syria di usia muda. Saya bisa bangga dan bilang ke Rasulullah kalau saya bertemu beliau di surga, “Ya Rasulullah. Dulu saya ketika muda sama seperti Engkau. Pergi ke Syam untuk berjuang dan berusaha di jalan Allah!”
Bulatlah tekad saya untuk lanjut belajar ke Syria, tapi saya masih tidak tahu bagaimana caranya saya bisa mendapat beasiswa ke sana.
Lalu, keajaiban terjadi lagi. Kepala sekolah memanggil saya, beliau memberi selembar surat tawaran beasiswa ke Syria. Waw. Aneh dan ajaib. Saya tidak melakukan apa-apa tapi tawaran itu datang dengan sendirinya. Itulah keajaiban doa. Doa bisa membeli segalanya.
Saya membuat paspor dan memenuhi semua persyaratan beasiswa. Pada bulan Juni 2012 saya mengikuti tes di MAN 2 Bandung. Sebenarnya saya sedang sakit flu, demam, tak enak badan, tapi saya tidak mau menyia-nyiakan keajaiban yang sudah terjadi. Saya berangkat dari Garut jam 6 pagi dan tes beasiswa jam 9 pagi, sungguh dodol saudara-saudara, saya akan terlambat. Dan parahnya saya lupa bawa pulpen.
Saya sampai jam 9.30, terlambat 30 menit. Semua peserta sudah duduk dengan nyaman dan mengisi lembar jawaban tes. Saya ngos-ngosan dan berkeringat. Fuuuhhh. Setelah mendapat soal dan lembar jawaban, saya langsung mengisinya dengan kecepatan luarbiasa ngebut. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
###
Shubuh itu hari Jum’at pertama saya di Syria. Tanggal 24 September 2010. Saya diajak teman saya untuk shalat shubuh di Jami’ Umawwi. Teman saya itu namanya Nazir Khaffi. Dia orang Nigeria yang kocak banget. Kami pernah joget Tsamina tsamina ee waka waka ee di kelas. Kalian tahu tsamina tsamina ee waka waka ee? Itu loh soundtrack piala dunia 2010.
Jami’ Umawwi, masjid terbesar di Damaskus, di sanalah saya shalat shubuh saat itu. Saya seperti bermimpi, ada perasaan aneh di hati. Saya biasanya shalat di masjid pesantren di Garut. Eh sekarang saya berada 10000 kilometer dari Garut.
Di dalam masjid Umawwi ada makam Nabi Zakaria. Nabi yang mendapat keajaiban doa. Beliau sudah tua dan istrinya mandul dan sudah menopause, beliau tak kunjung memiliki keturunan. Nabi Zakaria berdoa di dalam mihrob
“penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeningalku, sedang istriku adalah seseorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. " (QS. Maryam: 2-6)
"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (memperoleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia." (QS. Maryam: 7)
"Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua." (QS. Maryam: 8)
"Tuhan berfirman: 'Demikianlah.' Tuhan berfirman: 'Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali." (QS. Maryam; 9)
###
Itulah kawan-kawan yang budiman, keajaiban doa. Kita mah da apa atuh, penuh kelemahan dan keterbatasan. Tapi kita jangan pernah berpikir kalau sesuatu itu mustahil di ‘tangan’ Allah. kalau kamu menginginkan sesuatu, berdoalah.
“Dan Tuhanmu berfirman : Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Al-Mu’min : 60)
Dan doa saya untuk semua teman-teman di akhir tulisan ini. Ya Allah, Semoga teman-teman saya bahagia selalu di dunia dan akhiratnya
Yang sedih semoga cepat senyum kembali
Yang merasa lemah semoga kuat dan percaya diri lagi
Yang kesepian semoga segera mendapat ketentraman dan teman yang baik hati

Aamiin ya Allah ^/\^