Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Sunday, 1 March 2015

Resensi Biografi Gandhi The Man


Setelah membaca buku ini saya mendapat kekuatan yang luarbiasa besar. Saya mengakui, Gandhi memang salah satu tokoh berpengaruh di dunia. Sederhana dalam hidup beserta konsepnya. Satyagraha dan Ahimsa, tapi dampaknya sangat kuat!

Satyagara artinya memegang teguh kebenaran. Tidak takut terhadap apapun demi menegakkan kebenaran.

“Hanya karena sesuatu tidak pernah terjadi pada masa lalu, bukan berarti itu tidak dapat terjadi pada masa depan” – Mahatma Gandhi


Kebenaran itu Gandhi perjuangkan melalui jalan Ahimsa. Nirkekerasan. Hati bersih dari kebencian, amarah, dan kedengkian. Hanya ada cinta dan kasih sayang. Fitrah manusia adalah mencintai dan menyayangi. Kebencian dan kekerasan tak bisa berdiri sendiri tanpa adanya pendukung, berbeda dengan cinta dan sayang yang mengalir deras dalam darah manusia.


Hidup adalah tempat untuk melayani orang, sebanyak mungkin, seberkualitas mungkin. Kekuatan terbesar kita terletak pada cinta di dalam hati. Kita akan terus memberi walau hasilnya adalah luka-luka di hati kita. ah, luka itu tidaklah penting. Karena bagi seorang Satyagrahi, yang terpenting bukan hasil atau pencapaian, tapi proses dan keteguhan melakukan yang baik.


oh ya, luka masih bisa ada dan terasa bagi orang yang menggantungkan hidupnya pada sesuatu. Bebaskan diri dari segala ikatan ghaib yang membelenggu. Berdirilah dan mandiri, maka hidup hanya akan terisi dengan hal ajaib yang menentramkan hati.


Gandhi mengubah dirinya untuk mengubah dunia. caranya sangat sederhana. Dengan mempraktikkan yang ia baca dari Bhagavad Gita. Hidup ini sederhana, tafsirannya yang rumit. Gandhi memilih hidup yang sederhana dengan kecintaan yang istimewa. Hasilnya mu'jizat!


Ini beberapa kutipan dari buku biografi Gandhi ini.


“Kekerasan takkan pernah dapat mengakhiri kekerasan; yang bisa dilakukannya hanyalah memancing kekerasan yang lebih besar” – Mahatma Ghandi


“Kita semua adalah satu. Ketika kau mengakibatkan penderitaan kepada orang lain, kau membawa penderitaan kepada dirimu sendiri. Ketika kau melemahkan orang lain, kau melemahkan dirimu sendiri, melemahkan seluruh bangsa” – Mahatma Gandhi


“Hukum rimba tidak jadi masalah untuk binatang; kekerasan adalah darma mereka. Namun, bagi manusia, melakukan kekerasan sama saja dengan membalik alur evolusi dan melawan sifat dasar kita, yaitu mencintai, menanggung, dan memaafkan.” – Mahatma Gandhi


“Kesenangan berada dalam perjuangan, dalam usaha, dalam penderitaan yang terlibat, bukan dalam kemenangan itu sendiri” – Mahatma Gandhi


“Kemarahan kita yang terkendali bisa diubah menjadi kekuatan yang dapat menggerakkan dunia” – Mahatma Gandhi


“Ketika seseorang melakukan segalanya dengan semangat beribadah, semua tempat yang ia kunjungi adalah sakral.” – Mahatma Gandhi


“Jika kamu ingin melihat jiwa pemberani, lihatlah mereka yang bisa memaafkan. Jika kamu ingin melihat jiwa kepahlawanan, lihatlah mereka yang bisa membalas kebencian dengan kasih sayang.” – Mahatma Gandhi


“Nirkekerasan adalah senjata para pemberani.” – Mahatma Gandhi


“Kekuatan bukan berasal dari kemampuan fisik, melainkan muncul dari kemauan yang gigih” – Mahatma Gandhi


“Untuk dapat menikmati hidup, kita tidak boleh egoisnya bergantung pada apa pun, uang, harta benda, kekuasaan, atau gengsi, bahkan keluarga atau teman. Ketika kita melekat pada hal-hal tersebut, kita menjadi tahanannya.” – Mahatma Gandhi


“Seseorang yang selalu merisaukan hasil kerjanya tidak mampu melihat tujuannya dengan jelas; di matanya yang tampak hanya perlawanan dan rintangan.” – Eknath Easwaran
“Yang saya maksud dengan pelepasan diri adalah bahwa anda tidka perlu khawatir apakah hasil yang anda inginkan akan tercapai melalui tindakan anda, selama niat anda murni dan cara anda benar. Sungguh, segala hal akan menjadi tepat pada akhirnya, jika anda menggunakan caara yang benar dan menyerahkan sisanya kepada Dia.” – Mahatma Gandhi


““Tuan Gandhi,” seorang jurnalis dari negara Barat pernah bertanya, “Anda telah bekerja setidaknya lima belas jam sehari, setiap hari, selama hampir lima puluh tahun. Tidakkah anda pikir ini saatnya untuk berlibur?”


“Mengapa?” Gandhi berkata. “Saya selalu berlibur.”” – Gandhi The Man


“Bukanlah nirkekerasan namanya jika kita hanya mencitai orang-orang yang mencintai kita. Nirkekerasan adalah ketika kita mencintai orang-orang yang membenci kita. Saya tahu sangatlah sulit untuk menaati hukum agung cinta kasih ini. Namun, bukanlah segala hal hebat dan baik sulit untuk dilakukan? Mencintai orang yang membenci kita adalah yang paling sulit di antara semuanya. Namun, dengan rahmat Tuhan bahkan hal yang paling sulit ini pun dapat dicapai dengan mudah jika kita mau melakukannya.” – Mahatma Gandhi


“Kita mulai merasa sedih ketika kita memikirkan diri sendiri” – Ginan Aulia Rahman


“Cinta tidak pernah meminta, ia selalu memberi. Cinta selalu menderita, tidak pernah membenci, tidak pernah membalas dendam demi dirinya sendiri.” – Mahatma Gandhi



“Waktu anda bukanlah milik anda, melainkan milik bangsa. Kita hanyalah orang yang diamanatkan untuk menggunakannya.” – Mahatma Gandhi

Saturday, 28 February 2015

Saya dan Perpusatakaan

Perpustakaan menjadi bagian hidup saya. Saya dengan perpustakaan seperti Somay dengan bumbu kacang. Begitu klop dan saling melengkapi.

Ceritanya berawal sejak SMA kelas X di pesantren. Saya adalah anak SMA yang bodoh. Saat itu ada tes IQ, Teman-teman saya memiliki IQ yang besar. Mereka berIQ 140, 135, 129. Mereka memang teman-teman saya yang jenius.

Coba tebak berapa IQ saya? dengan sangat sedih saya akan beri tahu kalian, IQ saya hanya 101!

Bayangkan kawan-kawan pembaca. IQ saya 101! Gilaaaaa. IQ saya hanya 1 poin lebih tinggi dari batas orang normal. Kurang dikit lagi saja saya sudah ditolak di SDnya Forest Gump!

Ujian Fisika, Kimia, dan Biologi sangatlah bagus. Nilainya 4! Sayang saat itu saya bukan anak kuliahan, tapi anak SMA. Masa SMA saya suram banget deh. Apapun ujiannya pasti kena remedial. Aduh masa SMA adalah The Dark Ages bagi saya.

Frustasi. Saya sering nangis karena gak bisa apa-apa. Hmm.. Sudah bodoh cengeng juga. Dasar lelaki pemakan somay ngutang. 

Satu-satunya tindak intelektual yang bisa saya lakukan hanyalah membaca. Walaupun saya bodoh dan IQ saya tidak bisa dibanggakan, setidaknya saya tidak buta huruf. Oke, saya pikir-pikir saat itu, ada baiknya saya tidak terlalu peduli dengan keterbatasan saya. lebih baik saya fokus pada apa yang bisa saya lakukan. Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.

Saya bisa membaca. Hanya bisa itu. Maka saya bertekad akan menjadi pembaca yang luarbiasa tekun!

Sekali baca saya tidak hanya memegang 1 buku. Kadang 3, 5, paling banyak 7! Setiap saya merasa bosan dengan buku yang saya baca, saya segera beralih ke buku yang lain. Sebenarnya saya tidak suka membaca, jadi saya paksakan untuk suka. Ya mau bagaimana lagi, Cuma ini yang bisa saya lakukan.

Nah, karena itulah saya jadi sering ke perpustakaan pesantren saya. Di sana lumayan tersedia banyak buku. Banyak buku sumbangan yang bagus-bagus. Kakak kelas yang telah meninggalkan pesantren biasanya menyumbangkan buku-bukunya ke perpustakaan. 

Setiap hari saya ke perpustakaan. Sampai-sampai perpustakaan pesantren saya itu jadi berbau khas kaki saya. hahahaha. Kaki saya bau saudara-suadara. Untuk ke perpustakaan mesti buka sepatu. Ya habis keringetan sekolah lalu ke perpustakaan membuka sepatu. Jadi bukan salah saya dong perpustakaan jadi bau. 

Vino menjadi patner saya dalam membaca. Kami duduk paling belakang, di kolong meja kami tersimpan banyak sekali buku. Guru-guru silakan berbicara di depan kelas, Saya dan Vino tetap membaca buku di bangku dengan asyik.

Saya pernah bilang ke Vino 

“No, klo kamu belum berhasil mengacak-ngacak rak buku perpustakaan tempat kamu belajar atau sekolah, dan belum kau baca habis semua bukunya, berarti kamu belum sungguh-sungguh lulus dari sekolah itu!”

Gila. Sungguh kalimat yang buat merinding. Kami berdua berhasil membaca semua buku yang ada di perpustakaan pesantren kami. tapi setelah saya kuliah di UI. Saya bingung bagaimana baca buku sebegitu banyaknya, perpustakaan UI terbesar seAsia Tenggara cuy. Gimana saya mau baca semua bukunya? 

Sedangkan Vino kuliah di Unpad, Dia sekarang maju sebagai ketua BEM Unpad. Membaca banyak buku mengantarkan dia menjadi pemimpin di kampusnya.

Saat kelas XI saya membaca buku yang luarbiasa. Sebuah Novel/Memoar karya John Wood berjudul Leaving Microsoft to Change The World. John Wood seorang pejabat eksekutif di Microsoft. Setelah ia pergi ke Nepal untuk mendaki Himalaya, hidupnya berubah. Dia menemukan orang-orang Nepal yang kurang beruntung. Mereka tak memiliki perpustakaan yang memadai di sekolahnya. John Wood menjadi terkenang masa kecilnya yang penuh dengan buku-buku.

John Wood akhirnya memutuskan untuk keluar dari Microsoft dan mendirikan organisasi nirlaba bernama Room to Read. Perjuangan yang sungguh inspiratif. hingga saat ini John Wood dengan Room to Readnya telah mendirikan 16,549 Perpustakaan, 1,824 sekolah, dan mendistribusikan 14,588,494 buku di Bangladesh, Cambodia, India, Laos, Nepal, South Africa, Sri Lanka,Tanzania, Vietnam and Zambia 

Saya ketika membaca kisah perjuangan John Wood, badan jadi gemetar dan takjub. Saya ingin seperti John Wood, mendirikan perpustakaan di banyak tempat. Ini menjadi cita-cita saya.

Lalu hal mengharukan terjadi pada saya. Adik saya bernama Rusyda Deviana, ketika ia lulus SMA dia bilang pada saya

“A Ginan, Devi mau lanjut kuliah di jurusan ilmu perpustakaan. A Ginan pernah bilang ingin punya perpustakaan. Biar nanti Devi yang akan mengelolanya a!”

So Sweet...

Saat ini Devi telah lulus kuliah jurusan ilmu perpustakaan, ia bekerja menjadi librarian di SMAN 1 Leuwiliang. Semenjak Devi bekerja di sana, pengunjung perpus menjadi membludak. Karena dulunya perpustakaan sekolah selalu terbengkalai. Devi mengurus perpustakaan dengan sangat baik, sehingga pengunjung pun menjadi tertarik untuk datang.

Setiap bulan perpustakaan yang dikelola Devi mendapat penghasilan 1 juta rupiah dari peminjaman buku. Devi mempercayakan saya sebagai rekomendator untuk pengembangan koleksi buku perpustakaan. Setiap bulan saya belanja buku untuk perpustakaan. Saya bisa membeli buku apapun yang saya suka dan ingin baca, hahaha. Untuk selanjutnya buku itu akan menjadi koleksi perpustakaan SMAN 1 Leuwiliang.

Setiap bulan saya belanja buku sebesar 1 juta. Rupiah. Lumayan bisa membeli beberapa belas buku dengan uang itu. Mimpi saya ingin memiliki perpustakaan seolah telah terwujud. walau tidak menggunakan uang sendiri. Ya seperti pepatah lama. Menikmati tidak harus memiliki. Hahaha

Ternyata buku-buku pilihan saya laku dipinjam anak SMA. Selara saya memang bermutu. Akhirnya banyak yang suka datang ke perpustakaan dan rajin meminjam. Haaah senang sekali. 

Alhamdulillah saya jadi banyak sekali mendapat keuntungan. Saya selalu bisa membaca buku yang ingin saya baca, saya tidak akan pernah tertinggal untuk membaca buku terbitan baru, dan saya membantu sebisa saya untuk kemajuan perpustakaan SMAN tempat Devi bekerja.

Saya anak SMA bodoh ini akhirnya bisa berguna. Gara-gara membaca dan perpustakaan, saya jadi bisa menulis. Ya walau beginilah tulisan saya. seadanya.

Itulah kisah saya dengan perpustakaan. Terimakasih sudah membaca...


Malu dong malu..Belajar yang rajin

Ini pengalaman yang membuat saya kaget setengah mati. Saat itu hari Jum’at di Cihampelas Bandung. Jam di dinding menunjukan pukul 11. Saya dan kakek pergi ke masjid An-Nur untuk shalat Jum’at. 

Masjid masih sepi. Adzan Dhuhur sekitar satu jam lagi. Selepas wudhu saya menuju shaf paling depan, di sana ada seorang bapak yang beruban lebat duduk sambil menunduk membaca sesuatu. Terlihat dari belakang bapak itu sudah begitu tua. 


“wah bapak ini rajin sekali ke masjid untuk Jum’atan” kata saya dalam hati.


Setelah posisi saya dekat dengan bapak itu, saya kaget betul. Saya lihat bapak itu dari dekat, ternyata bapak itu seorang tuna netra. Dengan sangat tenang dan khusyu dia sedang membaca Al-Qur’an braile!


Sebagai anak muda hati saya tertampar keras. Pemandangan seorang bapak tua tuna netra sedang khusyu membaca Al-Qur’an menghujam jantung saya. ‘Jleb jleb jleb’. Tiga tikaman bersarang di dada. 


“hai anak muda yang sehat mata. Mana Al-Qur’anmu? Sudah baca sampai mana? sudah kau amalkan sejauh apa?”

Saya merenung. Bapak yang sudah tua dan tak bisa melihat, ia pantang menyerah untuk membaca firman Allah. saya apa kabar?


Lalu pengalaman saya di Damaskus membuat saya kagum . Saya bertemu dengan teman-teman yang hafal dan merdu melantunkan Al-Qur’an. Teman saya bernama Abdurahman, dia baru berumur 15 tahun dan telah hafal Al-Qur’an. Teman dari Macedonia, Aljazair, Bahkan teman senegara saya dari Solo hafal Al-Qur’an. 


Pertanyaan antara siswa-siswa di Syria bukan lagi “kamu sudah hafal berapa juz Al-Qur’an?”. Tapi “Selain hafal Al-Qur’an dengan qira’ah Hafs, kamu hafal qira’ah apa?”


Begitu juga dengan penguasaan bahasa. Mereka sudah tidak bertanya lagi “kamu menguasai bahasa inggris dan bahasa arab tidak?”. Tapi “selain bahasa inggris dan bahasa arab, kamu menguasai bahasa apa?”


Di atas langit ada langit. Jangan pernah puas dengan keadaan sekarang yang sepertinya sudah cukup dan cakap. 

Dalam kediaman dan kemalasan kita, ada banyak orang lain yang selalu berprogres maju. 


Di saat kita mengeluh sudah terlalu tua untuk belajar dan menguasai pelajaran, ada banyak orang yang lebih tua dan semangat untuk belajar, bahkan baru mulai belajar alif ba ta tsa tanpa keluhan.


Di waktu kita letih atas kesulitan, ada banyak orang lain yang tak sempat memikirkan hal begitu karena sibuk berjuang.

Kita sehat dan memiliki 5 indra yang berfungsi dengan baik. Mau menunggu apa lagi untuk berjuang? Mau punya alasan apa lagi untuk menunda?


Mengembangkan diri selalu terasa tidak penting dan mendesak, sampai kita tahu perihnya penyesalan. Waktu berlalu dan kesempatan hilang.


Ya. semoga kita selalu bisa berjuang tanpa keluh kesah. Berkembang dan memantaskan diri menjadi diri yang lebih baik. In harmonia progressio.


###

Tambahan..

Saya baru membaca buku My Brief History, biografi dari fisikawan terkenal, Stephen Hawking. Dia bercerita, selepas dia lumpuh total dan hanya bisa terduduk di kursi roda. Dia bisa menulis 7 buku best-seller dan beberapa makalah fisika. Tangan dan jarinya tak bisa bergerak, dia menulis tidak menggunakan kedua tanggannya, tapi menggunakan sensor gerakan mata. Dia menulis dibantu perangkat komunikasi yang merepotkan tapi dia tetap menulis.

Ckckckc..



Wednesday, 31 December 2014

Hai Introvert Optimislah..

Tulisan saya kali ini untuk orang yang merasa dirinya introvert.


Senin 13 Oktober 2014 saya kedatangan tamu istimewa, Adik kelas saya di pesantren bernama Faiz Ahadina. Dia datang ke perpustakaan UI untuk menemui saya. Rencananya kami akan mengobrol dan saling bertukar cerita. Agenda khususnya Faiz ingin konsultasi ke saya soal keluhannya.

Faiz merasa dirinya introvert. pemalu dan penyendiri. Dia merasa lebih bersemangat, fokus, dan berenergi saat sendirian daripada saat berkumpul bersama orang lain.
Faiz memiliki cita-cita tinggi. Ingin membanggakan orang tua dan bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang. Dia menyadari untuk mewujudkan cita-cita itu dia perlu banyak bergaul, berorganisasi, dan berinteraksi dengan banyak orang. Terlebih lagi dia kuliah di jurusan entrepreneurship. Menjadi pengusaha perlu kemampuan yang cakap dalam menghadapi dan mengurus orang. Faiz merasa masuk ke suatu wilayah tidak nyaman. Faiz orang pendiam, tidak bisa menghangatkan suasana, tertutup, dan sulit memulai obrolan. Faiz merasa tersiksa karena ini.
Orang introvert itu minoritas, orang ekstrovert mayoritas. Satu orang ekstrovert bisa jadi orang yang sangat dominan di suatu perkumpulan. Nah, orang ekstrovert berjumlah banyak. Orang introvert seperti Faiz jadi tambah minder.
Kami punya kakak kelas yang introvert. Kang Irfan Amalee. Dia mengatakan kalimat yang inspiratif soal introvert
“Hal yang orang tunggu dari orang introvert bukan menghangatkan atau meramaikan suasana seperti yang orang ekstrovert lakukan, tapi karya-karya yang fenomenal!”
Albert Einstein, Bill Gates, dan JK Rowling adalah orang introvert. Dunia merasakan manfaat lewat karya-karya mereka. Kang Irfan Amalee juga berkarya. Menulis buku-buku dan mendirikan peace generation sehingga membuat dia masuk sebagai 500 muslim berpengaruh dunia.
“Yasudah iz. Kamu berkarya aja. Beri orang lain manfaat lewat ide dan buah tangan kamu” kata saya.
“Iya a. tapi saya tetap merasa perlu untuk bergaul. Gimana ya a? ini saya kuliah di jurusan entrepreneurship a ”
“kebetulan aa baru baca pemikiran Piere Bordieu soal habitus. Manusia terbentuk karena habitus. Habitus itu kebiasaan, lingkungan, dan keadaan tertentu yang akhirnya membentuk manusia. Gini iz. Kalau kamu mau jadi seorang entrepreneur, kamu mesti masuk ke habitus yang membuat langkah kamu lancar menjadi entrepreneur. Misalnya masuk komunitas entrepreneur, bergaul dengan mereka yang paham soal bisnis. Nanti kamu secara otomatis akan terbentuk jadi entrepreneur iz.
Kalau ngandelin semangat dan niat saja iz, kita akan selalu gagal untuk bertahan melawan waktu. Konsistensi dan setia untuk selalu berjuang itu sulit. Jadi mending masuk ke dalam habitus. Atau ciptakan habitus itu sendiri. Jadikan apa yang perlu kamu lakukan itu kebiasaan. Buat lingkungan yang kondusif yang sesuai dengan tujuan yang mau kamu capai.”
“Iya a. tapi gimana sayanya kayak gini a. introvert. Gak bisa bergaul masuk ke habitus itu”
“nah ini iz yang jadi masalah di diri kamu. Soal mindset. Kamu udah terlalu terpaku sama pikiran kamu kalau kamu itu introvert.
Iz. Ada dua macam mindset. Fixed mindset dan growth mindset. Kamu ini fixed mindset. Pola pikir kamu udah bilang fix kalau kamu itu introvert. Jangan begitu, nanti selamanya kamu gak akan bisa berubah. Manusia itu dinamis iz, bisa berkembang dan bisa tambah baik. Setiap manusia punya potensi yang akan menjadi aksi. Kamu lebih baik pakai growth mindset.

Coba iz aa tanya. Kamu datang jauh-jauh dari Kebayoran. Naik kereta ke UI. Masuk ke perpustakaan kampus orang lain untuk ketemu saya. Terus kamu ngobrol dengan saya sekarang. Kira-kira, itu hal yang dilakukan orang introvert atau ekstrovert?”
“Orang Ektrovert a”
“tuhkan. Kamu itu udah melakukan sesuatu yang orang ektrovert lakukan. Kalau kamu ini introvert tulen iz. Tentu kamu bakal lebih memilih diam di kosan. Mengurung diri. Gak akan pergi jauh juah buat ngobrol sama saya”

“ohhh.. berarti saya ambivert”
“hahahahahaha.. maksudnya bukan begitu. Hahahaha. Ekstrovert dan introvert itu cuma konsep di kepala. Sesungguhnya gak ada manusia yang betul betul introvert dan betul betul ektrovert. Sesuai keperluanlah
Manusia itu berkembang iz. Bahkan Nabi Muhammad pun tidak langsung jadi orang superhebat. Pasti ada prosesnya. Kalau aa pikir ya. Nabi Muhammad itu pada awalnya orang introvert.”
“loh, kok gitu a?”
“iya iz. Coba bayangin. Nabi Muhammad itu yatim. Ditinggal oleh ibunya umur 6 tahun. Lalu dia tinggal di rumah kakeknya. Kira-kira anak yang tinggal di rumah kakek dalam keadaan yatim piatu dia akan ekstrovert atau introvert?”
“introvert a”
“lalu kakek nabi Muhammad meninggal dunia. Beliau mesti tinggal di rumah Abi Thalib, pamannya yang memilik anak banyak. Nabi Muhammad punya kemungkinan besar seorang introvert. Tapi itu tidak menghalangi beliau menjadi pengusaha yang hebat iz di Siti Khadijah Corporation. Di sana pasti ada usaha, kerja keras, belajar, dan ketekunan.”
“Ya itukan Nabi a. saya mah bukan”
“Iz. Kenapa Allah mengutus seorang manusia bukan malaikat? Supaya bisa kita jadikan teladan. Nabi manusia. Kamu juga manusia. Manusia bisa belajar dan berkembang. Udahlah jangan terlalu kamu pikirkan masalah introvert atau ekstrovert.
Kita hidup untuk belajar. Kalau kebetulan kamu sekarang orang introvert. Itu bukan sebuah hukuman, tapi kamu sedang dididik”
“dididik apaan a?”
“Ya dididik supaya kamu sabar dan belajar jadi orang yang lebih terbuka.”
Dan obrolan kami pun selesai karena adzan dhuhur. Saya pun ada kuliah filsafat pendidikan jam 1 siang.
Sebelum saya berangkat kuliah. Saya ajak Faiz makan nasi padang, saya teraktir dia. Saya mesti menjamu tamu secara istimewa.. Apalagi ini adik kelas kesayangan saya dari dulu ketika dia masih kelas 1 MTs.

Di rumah makan padang, saya makan ayam balado dan Faiz makan daging rendang. Setelah beberapa saat, Faiz bicara

“A, boleh nambah nasi ya?”
Saya tersenyum dan bilang
“iz. Kira-kira itu hal yang dilakukan orang introvert atau ekstrovert?”
Dan kami pun tertawa..
Haduuuh udah ditraktir. lalu dengan tanpa malu minta nambah. terus mengaku orang introvert?
“kalau bisa saya minta bungkus juga a. hehehe”

Saturday, 27 December 2014

Keajaiban Do'a


“It always seem impossible until it done”
Setiap merasa hidup ini telah usai, mimpi akan kandas. Kalimat dari Nelson Mandela itu seperti nyamuk pada malam hari yang terbang di sekitar telinga saya. Berisik sekali. Seolah mengingatkan saya.
“Bangkitlah anak muda dan buktikan kalau kamu itu keren!”
Awal semester 2 kelas 3 Aliyah, saya sedih karena tidak masuk kuota siswa yang ikut tes beasiswa santri berprestasi dari KEMENAG RI, siswa yang lulus tes akan mendapat beasiswa di PTN Unggulan seperti ITB, UGM, UPI, dan lain-lain. Teman-teman saya mendapat jatah tes karena mereka siswa rangking 1 – 10 di kelas. Ketika teman-teman berangkat ke Bandung dengan mobil pesantren, saya hanya bisa melihat mereka dari kejauhan pergi menuju mimpi-mimpi mereka yang cerah. Saya gigit jari, dalam hati saya bicara
“Saya juga akan dapat beasiswa..”
“keluar negri”
“liat saja nanti”
###
Saya duduk di kasur menghadap lemari yang terbuka. Saya merenungkan kembali kata-kata saya tadi. “Saya juga akan dapat beasiswa keluar negri”
Waduh, ngomong kok seenaknya begitu nan? apa mungkin itu terjadi? Bagaimana caranya?
Saya tidak tahu caranya. Saya sama sekali tidak tahu. Tapi saya tahu apa yang mau saya capai, saya ingin mencoba belajar di luar negri. Saya lepaskan niat ini ke langit. Saya berdoa pada Allah yang maha kaya.
“Ya Allah.. apalah artinya usaha dan inginku. Dua hal itu tiada harganya. Tapi aku percaya pada tingginya harga doa. Doa bisa membeli segalanya. aku berdoa padamu untuk membeli sesuatu. Aku ingin membeli kesempatan untuk bisa belajar di luar negri”
Setelah itu, atas kehendak-Nya, alam semesta seolah bahu-membahu membantu saya mewujudkan mimpi saya. Semua hal di sekitar saya berkonspirasi membuat cita-cita saya menjadi nyata.
Secara ajaib, di semester itu ustadz Nailul Abrar dan ustadzah Marhani menjadi guru baru di pesantren saya. Mereka berdua alumni universitas di Damaskus, Syria. Mereka banyak bercerita tentang Damaskus. Wah saya jadi tertarik untuk belajar di sana. Damaskus adalah sebuah kota bersejarah bagi Islam, kota ini sempat menjadi pusat kekhalifahan Bani Umayyah dan masa kekhalifahan Shalahudin Al-ayubi. Keren!
Hal yang paling membuat saya semangat, saya teringat, dulu Syria disebut Syam dan nabi Muhammad SAW ketika muda pergi ke Syam untuk berdagang. Kalau saya bisa berhasil belajar di syria di usia muda. Saya bisa bangga dan bilang ke Rasulullah kalau saya bertemu beliau di surga, “Ya Rasulullah. Dulu saya ketika muda sama seperti Engkau. Pergi ke Syam untuk berjuang dan berusaha di jalan Allah!”
Bulatlah tekad saya untuk lanjut belajar ke Syria, tapi saya masih tidak tahu bagaimana caranya saya bisa mendapat beasiswa ke sana.
Lalu, keajaiban terjadi lagi. Kepala sekolah memanggil saya, beliau memberi selembar surat tawaran beasiswa ke Syria. Waw. Aneh dan ajaib. Saya tidak melakukan apa-apa tapi tawaran itu datang dengan sendirinya. Itulah keajaiban doa. Doa bisa membeli segalanya.
Saya membuat paspor dan memenuhi semua persyaratan beasiswa. Pada bulan Juni 2012 saya mengikuti tes di MAN 2 Bandung. Sebenarnya saya sedang sakit flu, demam, tak enak badan, tapi saya tidak mau menyia-nyiakan keajaiban yang sudah terjadi. Saya berangkat dari Garut jam 6 pagi dan tes beasiswa jam 9 pagi, sungguh dodol saudara-saudara, saya akan terlambat. Dan parahnya saya lupa bawa pulpen.
Saya sampai jam 9.30, terlambat 30 menit. Semua peserta sudah duduk dengan nyaman dan mengisi lembar jawaban tes. Saya ngos-ngosan dan berkeringat. Fuuuhhh. Setelah mendapat soal dan lembar jawaban, saya langsung mengisinya dengan kecepatan luarbiasa ngebut. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
###
Shubuh itu hari Jum’at pertama saya di Syria. Tanggal 24 September 2010. Saya diajak teman saya untuk shalat shubuh di Jami’ Umawwi. Teman saya itu namanya Nazir Khaffi. Dia orang Nigeria yang kocak banget. Kami pernah joget Tsamina tsamina ee waka waka ee di kelas. Kalian tahu tsamina tsamina ee waka waka ee? Itu loh soundtrack piala dunia 2010.
Jami’ Umawwi, masjid terbesar di Damaskus, di sanalah saya shalat shubuh saat itu. Saya seperti bermimpi, ada perasaan aneh di hati. Saya biasanya shalat di masjid pesantren di Garut. Eh sekarang saya berada 10000 kilometer dari Garut.
Di dalam masjid Umawwi ada makam Nabi Zakaria. Nabi yang mendapat keajaiban doa. Beliau sudah tua dan istrinya mandul dan sudah menopause, beliau tak kunjung memiliki keturunan. Nabi Zakaria berdoa di dalam mihrob
“penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeningalku, sedang istriku adalah seseorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. " (QS. Maryam: 2-6)
"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (memperoleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia." (QS. Maryam: 7)
"Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua." (QS. Maryam: 8)
"Tuhan berfirman: 'Demikianlah.' Tuhan berfirman: 'Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali." (QS. Maryam; 9)
###
Itulah kawan-kawan yang budiman, keajaiban doa. Kita mah da apa atuh, penuh kelemahan dan keterbatasan. Tapi kita jangan pernah berpikir kalau sesuatu itu mustahil di ‘tangan’ Allah. kalau kamu menginginkan sesuatu, berdoalah.
“Dan Tuhanmu berfirman : Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Al-Mu’min : 60)
Dan doa saya untuk semua teman-teman di akhir tulisan ini. Ya Allah, Semoga teman-teman saya bahagia selalu di dunia dan akhiratnya
Yang sedih semoga cepat senyum kembali
Yang merasa lemah semoga kuat dan percaya diri lagi
Yang kesepian semoga segera mendapat ketentraman dan teman yang baik hati

Aamiin ya Allah ^/\^

Minta, Percaya, Terima...

Betapa mudahnya hidup dan betapa indahnya. Kalau mau mendapat lebih, caranya bukan ngotot mengejar, tapi justru dengan tenang bersyukur. Sudah jelas tertulis hukum semesta yang Allah tetapkan di dalam surat Ibrahim ayat 7

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu

Saya sedang tergila-gila dengan 3 kata. 3 kata itu adalah

Minta, percaya, dan terima....

Kemarin saya ngobrol dengan seorang teman, mahasiswi Universitas Indonesia, jurusan komunikasi. Sebut saja namanya mawar. Saya ngobrol dengan mawar berbagai macam keajaiban yang terjadi di kehidupan kami.

Saya pernah secara ajaib mendapat beasiswa keluar negri, pernah berhasil mengundang Andrea Hirata untuk sebuah acara seminar saat saya kelas 1 SMA, pernah bertemu Emha Ainun Nadjib di Jogja. Semuanya gratis dan tak mengeluarkan biaya sedikit pun, semua terwujud begitu saja dengan cara yang tak terduga dan di luar nalar. Modalnya hanya 3 kata; minta, percaya, dan  terima.

Mawar pernah mengalami hal menakjubkan, doi kuliah jurnalistik di UI, suatu waktu dia mendapat tugas kuliah untuk mewawancari orang terkenal tentang wirausaha. Terlintaslah di pikiran Mawar untuk mewawancara Prof Rhenald Kasali.

Setelah perjuangan panjang mencari kontak Prof Rhenald, dapatlah ia nomornya lalu ia sms. Berminggu-minggu tak kunjung ada balasan, tugas kuliah pun sudah mendekati deadline. Mawar hanya bisa berharap dan percaya. Tiba-tiba ada sms dari Prof Rhenald.

“hay, kamu yang mau mewawancarai saya. Mau ga ikut saya ke Jogja mengisi seminar? Temui saya di hotel Aston Jogja.”

Mawar kaget. Dia balas sms Prof Rhenald

“Saya mau sih Prof. Tapi saya ada kuliah dan tak ada uang untuk ke Jogja.”

Prof Rhenald Kasali hanya menjawab singkat

“Mau?”

“Mau Prof”

“Oke. Segera beli tiket pesawat ke Jogja, nanti kita ketemu di sana. Semua biaya akan saya reimburse”

Weis. Mawar panik minjem duit. Lalu segera membeli tiket pesawat ke Jogja. Esok harinya dia berangkat ke bandara. Sialnya, Mawar terlambat. Taksi yang ia tumpangi sudah melaju secepat-cepatnya, tapi tetap terlambat. Eh, ternyata pesawatnya delay. Sungguh beruntung sekali Mawar. Ini keajaiban namanya. Nyaris saja dia tertinggal pesawat.

Sesampainya di Jogja. Dia bertemu dengan Prof Rhenald Kasali. Prof Rhenal dengan wajah yang terlihat sedikit kaget menyambut Mawar. Dimulailah wawancara selama waktu luang Prof Rhenald. Mawar mewawancarinya di mobil dalam perjalanan ke lokasi seminar dan waktu istirahat.

Asisten Prof Rhenald berkata pada Mawar

“Sebenernya Prof Rhenald itu kaget kamu jadi datang. Dia cuma iseng aja kemarin ngsms kamu. Ternyata kamu betulan kemari”

Prof Rhenald Kasali pun akhirnya berkata secara langsung

“Saya kaget ternyata kamu datang ke Jogja. Tapi bagus, lamu hebat! Untuk jadi wirausaha, hal paling pertama yang mesti kamu miliki adalah keberanian bertindak. Kamu orangnya berani”

Semua biaya akomodasi, makan, minum, menginap selama di Jogja ditanggung Prof Rhenald. Mawar jalan-jalan di Jogja dan mendapatkan pengalaman seru dengan cuma-cuma. Modalnya hanya; minta, percaya, dan terima.

Kamu pernah membaca buku The Alchemist? Kutipan yang sangat terkenal dari buku itu adalah kalimat;

“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”
Serius, kalimat itu bukan bualan. Saya mengalaminya berkali-kali dalam hidup. minta, percaya, dan terima.

Hidup ini seperti datang ke warung kopi. Kamu tinggal memesan apa yang kamu mau. Tinggal berkata pada penjaga warung.

“Mas, saya pesan kopi”

Kamu tak perlu risau dan khawatir. Tak perlu skeptis dan pesimis. Secangkir kopi akan datang ke hadapan kamu.

Kamu tak perlu cerewet memesan berulang-ulang

“mas, saya pesan kopi”

“mas, saya pesan kopi”

“mas saya pesan kopi”

Cukup satu kali saja kamu memesan, telinga penjaga kopi tidak tuli. kopi itu pasti datang. Percaya saja dan kamu akan menerima.

Hidup pun demikian. Minta, percaya, dan terima.

Sebutkan apa yang kamu mau, cukup satu kali saja. percayalah apa yang kamu mau akan datang dan kamu akan menerimanya.

Ketika kamu memikirkan sesuatu, sebenarnya kamu sedang memesan sesuatu itu datang ke kehidupan kamu. Alam semesta sedang bahu-membahu mewujudkan apa yang kamu pikirkan, sama seperti penjaga warung kopi yang sedang menyeduh kopi nikmat untukmu.

Minta, percaya, dan terima.

3 kata itu membuat saya bahagia selama seminggu ini. Saya berpikir hal-hal yang positif. Saya meminta hal-hal positif. Saya merasa berada dalam keberlimpahan, merasa sangat dicintai, dan merasa sangat bahagia. Sesungguhnya waktu adalah ilusi. Tidak ada jeda di antara minta, percaya, dan terima. Semua terjadi dalam satu titik. Ketika saya meminta, sesungguhnya saya sedang percaya, dan saya sudah menerima apa yang saya minta. Saya bersyukur dan merasa bahagia.

Saya mulai mengharapkan segala yang baik terjadi pada teman-teman saya. Perasaan sangat dicintai membuat perasaan cinta mengalir deras ke segala arah, terutama ke teman-teman saya. Saya meminta untuk kebaikan dan kebahagian mereka. Saya percaya. Dan semoga mereka akan menerima.

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban?

Then which of the Blessings of your Lord will you deny?

Minta, percaya, terima... :D



Friday, 19 September 2014

Tanamlah

Di sebuah aula asrama lantai 4 saya memandang ke luar jendela. Terlihat oleh mata saya hamparan kuburan yang kering. Pemandangan kuburan itu menemani saya mengerjakan tugas sekolah dan membaca kitab Al-Hikam Ibn Athaillah.

Gedung asrama dan sekolah saya di Damaskus dekat dengan pekuburan Bab Shagir. Salah satu kuburan di sana adalah kuburan sahabat Rasulullah yang sangat terkenal, Bilal Bin Rabah. Saya pernah ke sana untuh ziarah, ketika di depan makam Bilal sebuah film imajiner muncul di kepala saya. Tergambar dengan jelas adegan Bilal ditindih batu besar di bawah terik matahari untuk mengatakan “Hubal.. Hubal”, tapi Bilal dengan sangat berani dan teguh ia berkata “Ahad.. Ahad”. Bilal teguh memegang keyakinan tiada Tuhan selain Allah.

Setiap hari saya melihat kuburan. Setiap hari saya mengingat mati. Awalnya sangat ngeri, saya selalu dihantui kematian, tapi setelah sering melihat kuburan saya jadi biasa dan cuek. Hehe.

Di Aula dengan pemandangan kuburan itu saya setiap hari sebelum tidur meminta ustadz pengawas asrama untuk membacakan saya kitab. Hehe. Saya belum lancar membaca kitab berbahasa Arab gundul maka dari itu saya meminta ustadz untuk membimbing saya membaca. Sekolah di Ma’had Dauly ini asyik, Ustadz tersedia 24 jam. Saya bila tidak tahu kosakata bahasa Arab tinggal bertanya pada ustadz dan beliau akan memberitahu sinonimnya dan menjelaskan pemakaian kata tersebut dalam kalimat bahasa Arab yang mudah saya mengerti. Wah ini nih pendidikan yang keren. Saya bersyukur bisa sekolah di sini.

Setiap hari Rabu dan Kamis ustadz membacakan saya Tafsir Al-Qur’an karya Ibn Katsir lalu setiap Selasa dan Jum’at membacakan Al-Hikam. Seringkali ustadz menambahkan dengan contoh dan cerita yang seru. Misalnya hikmah ke 11 di kitab Al-Hikam

“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”

Ustadz menceritakan kisah-kisah ulama yang pergi menjauh dari popularitas, membenamkan diri sedalam-dalamnya. Di dalam kerendahan itu mereka mencari ilmu dengan penuh kesabaran. Misalnya, Imam Bukhari menulis Kitab Hadits yang dikenal dengan Shahih Bukhari selama 16 tahun. Untuk mendapatkan satu hadits shahih perlu waktu berbulan-bulan dan melakukan perjalanan ke tempat yang jauh.

“Jinan. Tanamlah dirimu. Tak perlu terburu-buru tumbuh. Jika kamu ingin menjadi seorang yang berkepribadian kokoh, penuh ilmu, dan bermanfaat bagi orang banyak. bersabarlah. Ingatlah, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya” Kata Ustadz.

Dada saya berdesir. Sungguh indah sekali nasehatnya. Saya pergi ke kasur dan berselimut lalu memikirakan nasehat Ustadz. Saya punya banyak cita-cita. Tapi saya tidak menanamkan diri saya. Saya banyak terburu-buru dalam banyak hal. Dalam belajar pun saya tidak sabar, saya selalu ingin menguasai dengan cepat dan terlihat menonjol di banding siswa yang lain. Pantas saja buah yang dihasilkan dari belajar dan usaha saya tidaklah manis dan bergizi. Ah iya. Saya perlu terus mengingat pesan ini.. “Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”


Damaskus, Jum’at 21 Oktober 2011